
Hai, namaku Luna, aku putri dari Kerajaan Malam.nAku tidak memiliki ayah. Walaupun begitu, aku hidup bahagia bersama mamaku. Namun, ada yang Mama rahasiakan dariku. Suatu malam, aku bermimpi, melihat Ratu Siang masuk ke kerajaanku dengan muka kesal. “Mengapa kau belum memberiku 50 warna emas?! Baiklah, aku akan memberimu waktu selama dua minggu untuk mendapatkan warna-warna itu.” “Lima puluh warna emas? Buat apa? Aneh banget mimpiku yang satu ini,” kataku. Anehnya, mimpi itu selalu saja datang. Aku pun mulai berpikir, Apakah ini sebuah peringatan? Sudah lima hari mimpi itu terus muncul. Sepertinya aku harus mencari tahu kebenarannya!
Aku pun membuat rencana. Rencana pertama, aku mengikuti pekerjaku. Mereka mencari 50 warna
emas. “Duh, baru ketemu 17 warna emas, ini, yang kekumpul. Begadang lagi, deh,” kata salah satu pekerjaku. Namun, aku sangat terkejut, ternyata aku pun menulisnya di buku diary-ku. “Rencana pertama berhasil,” kataku. Aku pun langsung balik ke istanaku. Sebelum tidur, aku menyiapkan barang-barang untuk rencana kedua, lalu aku pun tidur.
***
“Selamat pagi!” kataku sambil menyapa burung burung. “Luna, tolong ambilkan topi yang biasanya Mama pakai,” kata Mama. Saat aku masuk ke dalam kamar mamaku, aku melihat ada sebuah buku. Aku pun membukanya, lalu saat aku buka, ada tulisan yang mamaku tulis. Ternyata, mamaku sudah tahu rahasia Ratu Siang.
Ratu Siang yang begitu malas, untuk mengumpulkan seribu warna emas, untuk anaknya agar bisa menjadi dewa. Akhirnya, menyuruh mamaku yang mengumpulkannya, kemudian memberikannya kepada Ratu Siang. Namun, bulan ini mamaku belum memberi 50 warna emas. Lalu, Ratu Siang memberi waktu dua minggu untuk mengumpulkan warna itu. “Hari terakhir mengumpulkan hari Senin depan. Selasa langsung kasih pukul 18.00.”Sekarang, kan, hari Senin, Senin ke Selasa depan
butuh waktu 8 hari lagi, yang berarti … hm … kejadian berlangsung selama 5 hari, ditambah dengan hari kemarin, ditambah lagi dengan 8 hari, yang berarti 2 minggu! “Kok, sama kayak di mimpi, sih?” kataku dengan kaget. “Oke, aku harus ngikutin Mama, sih.” Aku pun langsung terburu-buru mengambil topi Mama. “Sudah, Mama,” kataku.
Malam hari tiba, aku langsung diam-diam keluar dari istana untuk menyelinap masuk ke istana Ratu Siang. Saat di perjalanan, aku bertemu dengan nenek nenek.
“Cu … pakailah jubah ini,” kata Nenek itu. “Terima kasih, Nek,” kataku. Saat aku membuka kembali mataku, nenek-nenek itu menghilang! Aku pun terkejut, tetapi aku hanya bisa melupakan kejadian itu. Saat aku masuk ke dalam istana, aku masuk ke dalam kamar Ratu Siang dengan memakai jubah itu. Di sana, aku melihat ada sebuah pintu bertuliskan “Jangan dibuka”. Sebab aku pena saran, aku pun membukanya. Saat aku buka, ada sebuah buku yang berdebu. Saat aku buka, ada sebuah kisah tentang Kerajaan Bintang. “Kerajaan Bintang? Kok, aku belum pernah denger, ya?” Saat aku baca, ternyata Kerajaan Bintang meng hilang setelah adanya petir bercahaya dari Ratu Siang, tetapi Raja Lucas (Raja Bintang) masih bertahan. Raja Lucas pun memberikan sihir terakhir. Namun, Raja
Alastar melindungi Ratu Siang. “ALASTAR!” teriak Ratu Siang sambil menangis. “AKU AKAN BALAS DENDAMMU, ALASTAR!” teriak Ratu Siang sambil menangis. Raja Lucas pun pergi. Sebelum pergi, Raja Lucas memberi Ratu Malam tiga kalung yang sama agar mamaku tidak kehilangan jejak. Lalu, Raja Lucas pun pergi. Mamaku menyimpan dua kalung. Satu untuk
dia dan satu untuk anaknya. “Apakah kalung yang diberikan Mama ini kalung yang diberikan Raja Lucas? Emangnya Mama ada hubungan apa sama Raja Lucas? Oke, aku harus cari tahu di mana Kerajaan Bintang!”
***
Esok harinya, aku terburu-buru mencari Kerajaan Bintang. Tidak peduli aku melewati hutan.
“Sudah dua jam aku di sini, mau sampai kapan aku ketemu Raja Lucas?” Lalu, aku berjalan melewati sungai. “ROARRR!” Ada harimau mengejarku. Tibalah aku di pinggir tebing. “Aaa ….” Aku pun terjatuh. WUSHHH …. “Halo, apakah kamu sudah bangun?” Saat aku sudah sadar, tiba-tiba ada seekor elang mendekatiku. “HUWAAA! Jangan makan aku, aku masih ingin hidup, Elang!” kataku dengan takut.
“Siapa yang ingin memakan kamu? Aku memban tu kamu tadi. Aku liat kamu terjatuh dari tebing.
Mengapa kau melakukan itu? Kamu tahu kalau itu sangat berbahaya?” katanya. “Aku tidak melakukannya, aku dikejar oleh harimau, lalu aku tergelincir, jadi aku pun terjatuh ….
Elang, kok, kamu bisa bicara? Ajaib sekali,” kataku dengan heran. Namun, elang itu hanya diam, kemudian aku menanyakan kepada Elang ke mana arah Kerajaan Bintang. “Oh, Kerajaan Bintang, aku tahu. Ayo ikuti aku!” kata elang itu.nAku pun mengikuti Elang.
Saat sampai, aku melihat sekumpulan orang dengan rambut berwarna abu-abu. “Elang, yang mana rajanya?” kataku dengan bingung. “Itu dia,” kata Elang. Aku pun melihat satu orang laki-laki yang ditunjuk oleh Elang. Oh, ternyata itu Raja Lucas, kataku dalam hati. Tiba-tiba Raja Lucas melihat ke arahku. “Anakku!” kata Raja Lucas berlari menghampiriku. “Nak, ini Ayah. Lihat, kalung kita sama.” Aku pun memeluk Raja Lucas. Lalu, aku pamit pulang ke ayahku. Aku meminta Elang untukmengantarkan aku pulang. Semoga Mama belum pulang, deh. Biar enggak ketahuan kalau aku menghilang, kataku dalam hati. Saat aku masuk ke dalam istana, untungnya mamaku belum pulang jadi aku menulis di buku diary ku, lalu aku tidur.
***
Esok harinya saat aku melihat ke kaca, aku melihat rambutku berubah warna. “AAA!” kataku dengan terkejut melihat warna rambutku berubah setengah. Setengah emas, setengah abu. Lalu, aku menutup rambutku agar tidak terlihat orang lain. “Fyuhhh … untung enggak ada yang dengar
teriakanku,” kataku dengan lega. Lalu, aku melihat ada sebuah gulungan kertas tepat di bawah kakiku. “Kertas apa ini?” kataku dengan heran. Kemudian, aku membuka isi kertas itu. “Pergi ke Gua Pelangi”, kata isi kertas tersebut. Saat aku mengikuti peta untuk ke Gua Pelangi, aku tersadar, “Mengapa aku mengikuti peta ini? Kalau peta ini membahayakan aku, bagaimana? Tapi aku sudah hampir dekat, semoga enggak bakal kena bahaya, deh.” Lalu, aku pun melanjutkan perjalanan
ke Gua Pelangi. Saat sampai, aku melihat ada sebuah bola kristal yang memperlihatkan siapa elang itu dan ternyata, Raja Lucas yang kutemui bukanlah raja yang asli, ternyata aku tertipu oleh debu khayalan, yaitu debu yang seolah-olah menjadi orang yang sedang kita bayangkan.
“Hahhh! Ternyata aku tertipu! Bodohnya …,” kataku. Saat aku ingin keluar dari Gua Pelangi, ada
gulungan kertas jatuh tepat di atas kepalaku. “Kertas apa lagi, nih?!” kataku dengan muka kesal. Saat aku buka isi kertas itu, ternyata isi dari kertas itu adalah, “Pergi ke istana Ratu Siang, lalu dengarkan percakapan Ratu Siang. Gunakan jubahmu”. Lalu, aku langsung ke istana Ratu Siang.
Saat sampai, aku langsung mencari sumber suara Ratu Siang. Saat aku pergi ke gudang, aku mendengar ada suara teriakan. Lalu, aku pun mendengarkan percakapan tersebut. “M-ma-af, Reviaaa … maafkan aku …,” kata seseorang di dalam gudang tersebut. “Kok, suaranya kayak suara Mama, sih? Tapi kayaknya bukan Mama. Mama, kan, lagi pergi,” kataku.
Aku pun mendengar percakapan itu lebih lanjut. “AAA-AA-A … please … maafin aku …,” kata
seseorang yang ada di dalam gudang dengan suara yang kesakitan. “Kayak ada yang mengintip, ini,” kata Ratu Siang. “Oh, tidak. Aku harus bagaimana ini? Aku harus lari.” Aku pun lari terburu-buru.
“Fyuh, untung enggak ketahuan. Lagian ngapain lari coba? Padahal, kan, udah pake jubah ini. Hadeh … kebiasaan, deh, aku.” Lalu, aku pun pulang dan tidur. Esok harinya, aku langsung pergi dengan memakai topi agar rambutku tidak terlihat. Saat aku berjalan, ada sebuah gulungan kertas jatuh tepat di atas kepalaku. “Iiih! Apa lagi , sih!” Aku membukanya, lalu ada sebuah surat dan sebuah peta. Surat itu mengatakan bahwa aku harus pergi ke Istana Dewa. Lalu, aku harus menemui Dewa Sihir.
Aku pun mengikuti peta Istana Dewa. Saat sampai, aku langsung masuk ke dalam istana dan
menemui Dewa Sihir. Kemudian, Dewa Sihir mengatakan bahwa Ratu Siang sudah mengetahui
rencanaku, jadi Dewa Sihir membantuku lewat nenek nenek yang memberiku jubah dan surat yang selalu muncul. Dewa Sihir memberi petunjuk untuk mencari Kerajaan Bintang, tetapi Kerajaan Bintang lebih cepat ditemukan saat bulan purnama tiba karena Kerajaan Bintang harus memproduksi lebih banyak bintang agar langit malam tetap bercahaya dan aku harus
mencari cahaya bintang yang paling terang—karena di situlah Kerajaan Bintang berada. Untungnya, Dewi Malam akan membantuku melalui sebuah kertas. Aku pun pulang untuk beristirahat.
***
Esok harinya, aku langsung menyiapkan barang barang dan tidak lupa membawa kertas yang
diberikan oleh Dewi Malam. Malam hari tiba. Aku pun bergegas pergi, lalu aku melihat ke atas langit untuk mengetahui arah jalan. “Wah, indah banget langitnya. Aku harus melihat bintang yang paling bercahaya agar aku bisa tahu ke mana aku harus pergi.” Kemudian, kertas dari Dewi Malam bergetar dan saat aku lihat, ada tulisan ke mana aku harus pergi. Kira-kira aku harus berjalan selama dua hari. “Kalau perginya dua hari, berarti pulangnya juga dua hari? Duh, pas banget, sih,” kataku. Malam pertama dimulai, aku harus melewati jembatan kayu yang sangat tipis. Hampir aku terjatuh. Lalu, aku pun istirahat. Hari kedua, aku bertemu dengan seekor burung. Burung itu terbang mengarahku, lalu burung itu membuka sebuah gerbang. Saat aku masuk, aku ada di tempat yang sepertinya itu Kerajaan Bintang, karena rambut mereka berwarna abu. Lalu, aku bertanya kepada Dewa Malam melalui kertas. “Dewa Malam, aku ingin bertanya, di mana Raja Lucas?”
Lalu, Dewa Malam menjawab, “Luna sayang, carilah pria yang memakai kalung yang sama
sepertimu. Itulah Raja Lucas,” kata Dewa Malam. “Ternyata, mencari pria yang memakai kalung
sepertiku susah, ya.” Akhirnya, aku bertemu dengan Raja Lucas. Aku langsung memeluk Raja Lucas dan tiba-tiba aku melayang ke atas udara dengan memegang tongkat sihir yang sangat indah.
Dewa Malam menemuiku. “Selamat, Luna, kamu telah menjadi Dewi Langit karena kamu sudah
mencari tahu misteri Kerajaan Bintang, walaupun kamu harus melewati banyak rintangan. Tapi,
sementara ini kamu harus merahasiakan ini dulu.Kamu bisa menggunakan tongkat sihir ini kalau sudah saatnya,” kata Dewa Malam. Kemudian, aku diantar oleh Dewa Malam agar sampai ke istanaku.
“Duh, sudah mau jam 18.00, ini. Aku harus pantau Mama dari kejauhan. Saat Ratu Siang sampai di istanaku, Mama langsung memberi kantong berisi 50 warna emas. “Mana sini!” Saat Ratu Siang menghitung, ternyata mamaku melupakan satu lagi warna emas. Ratu Siang pun sangat marah.
“ALICIA!! Ini baru kekumpul 49 warna emas, lo! Aku butuhnya 50, Aliciaaa! Ngitung, itu, yang bener, dong!!” kata Ratu Siang. “Oh, no, aku harus selamatin Mama.”
Saat Ratu Siang sudah menyiapkan pisaunya, aku langsung memunculkan diri. Lalu, aku mengucapkan mantra sihirku. “AAA-AAA-H … SAKIT!” teriak Ratu Siang. “Luna, kamu apain Ratu Siang?” kata Mama. Kemudian, aku menjawab kalau aku sudah diangkat menjadi Dewi Langit.
Aku melempar Ratu Siang menggunakan tongkat sihirku. Aku lempar jauh dari istanaku. Akhirnya, aku bisa menemukan “MISTERI KERAJAAN BINTANG” sekaligus menjadi Dewi Langit.
***
Tentang Penulis
Zaira Shayna Almahyra, dipanggil Zaira. Dia sekolah di Darul Hikam, kelas 5C. Hobinya mengarang cerita. Dia membuat cerita berjudul Misteri Kerajaan Bintang yang Hilang, cerita ini bercerita tentang seorang anak yang ingin mencari tahu kerajaan yang belum pernah dia dengar.


