Hai, aku Zenna, aku putri dari Kerajaan Zean atau dibilang Hitam. Aku dibuang oleh ayahku, Zean. Aku dibuang karena aku punya rambut hitam seperti musuh ayahku. Ibuku, yaitu Emma, menyayangiku, tetapi terpaksa membuangku. Aku dibuang di Hutan Orchid. Aku di situ sudah seperti dua tahun, padahal baru seminggu. Di hari Kamis kemarin, aku bertemu Pangeran Hitam—di situ aku belum tahu dia pangeran. Dia membawaku ke istananya. Istananya mirip seperti istana yang dulu aku tinggalkan. Ternyata benar, dia adikku.

Saat malam, sepertinya ayahku membuang aku ke pantai paling jauh dari Kota Lanzeurburgh, yaitu Pantai Burghii. Aku di situ sudah sebulan. Aku sering ke situ saat kecil, jadi aku hafal jalan. Aku berniat untuk pulang, tetapi perjalanannya 26 jam dengan berjalan kaki.

Namun, aku berhasil pulang. Saat aku sampai, ada ayahku. Ia bilang, “Kenapa kamu ke sini? Saya sudah buang kamu jauh-jauh. Ikut saya.”

Ia membawaku ke mobilnya dan ternyata dia membawaku ke kota lain, yaitu Bellburgh, yang tidak jauh dari kota sebelumnya. Aku ditinggal ayahku.

Setelah ditinggal lima minggu, tiba-tiba ada temanku, Langit. Dia teman TK-ku. Ia membawaku ke rumahnya. Ibunya memberiku makan. Aku makan 20 piring karena lapar sekali.

Aku dan Langit sudah di situ setahun, kemudian pindah rumah. Sepertinya dia lupa punya anak. Untung langit membawa HP. Kami dijemput dan rumahnya bagus sekali. Kami di situ sudah sepuluh tahun. Aku sudah kuliah.

Aku dan langit sedang jalan-jalan ke Kota Lanzeurburgh, saat sedang jalan, aku bertemu keluarga duluku.

Ayahku berkata, “Zenna? Aku sudah merindukanmu! Ayo balik sama kita … dan itu siapa?”

Aku bilang, “Keluarga baruku. Kenapa? Masalah?”

Ayah langsung pergi dengan muka yang sangat marah.

Adikku bilang, “Awas aja kamu.” Leon marah juga mengejar ayahku.

Ibuku bilang, “Yang sabar, ya. Ayah dan adikmu memang begitu.”

Aku dan Langit pun lanjut jalan.

Ibunya langit bertanya, “Bukannya itu Raja Zean? Kenapa dia bilang ia merindukanmu?”

“Dia ayahku, tapi dia membuangku karena punya rambut hitam.”

“Oh, sayang sekali. Kamu tidak apa-apa tinggal sama kita? Semoga enggak papa, ya.”

“Enggak papa, kok.”

Kami menginap di situ. Besoknya, aku terbangun dan aku seperti di gudang.

Aku berteriak, “AKU DI MANA? HALO?!”

Ayahku tiba-tiba muncul. “Hai, inget kemaren? Ini hukumanmu. Pilih satu, dibunuh atau dicambuk?”

“Hah? Aku harus pilih satu?”

“Iya satu.”

“Baiklah, aku pilih dicambuk.”

“Pilihan bagus, tapi sepuluh kali sehari.”

“Se-sepuluh?!”

Aku sudah seminggu di gudang itu, tiba-tiba ayahku datang dan bilang, “Kamu tidak capek dipukul terus?”

Aku jawab, “Mau gimana lagi?”

“Tidak dibunuh saja? Mukamu lelah.”

“Tidak, aku tidak mau mati. Lebih mendingan aku capek daripada—”

“Kenapa?”

“Banyak impianku yang belum tercapai, salah satunya aku pengen hidup bahagia”

“H-hidup bahagia? K-kamu mau apa biar impianmu tercapai semua?”

“Hidup bahagia saja.”

“Itu saja?”

“Iya.”

“S-sama siapa? Saya?”

“Tidak … sama keluarga Langit.”

“Langit? Siapa itu? Tapi saya pernah mendengar nama Langit.”

“Temen TK-ku.”

“H-hah? Kenapa tidak keluargamu? Kita kaya?”

“Saya tidak mementingkan kekayaannya. Kebaikannya yang saya peduli.”

“B-bentar, kamu beneran lebih sayang sama keluarganya Langit?!”

“Iya, kenapa? Masalah?”

“Tidak jadi saya melepaskanmu!!”

“Lah? Kan, aku lebih bahagia sama dia? Aku muak sama kamu!”

“Kamu diem atau dibunu—”

Gubrak!!!

Zean jatuh. Aku bingung, tetapi aku harus kabur. Bodohnya aku, malah masuk istananya Zean atau Istana Hitam. Saat masuk, ada adikku yang dendam denganku dan Langit.

“La, eh … Leon?”

“Ngapain kamu di sini, hah?!”

“Eh, i-itu ayahmu jatuh, Leon. Kenapa, ya?”

“H-hah? Jatuh?! Apa maksudmu?! Di mana dia?” kata Leon yang sangat panik.

“Di gudang.”

“Hah? Gudang? Kita enggak punya gudang, lo? Yang benar, jangan ngarang!”

“Ih, orang serius di gudang, di bawah. Keluar dari rumah dulu, terus ke bawah aja ada pintu, kan? Nah, masuk aja.”

Leon pun bergegas ke bawah dan tersadar kalau tidak ada jalan ke bawah. Ia pun menemuiku lagi.

“Kamu ngasal, ya? Orang enggak ada jalan ke bawah. Dasar gila!”

Excuse me, aku enggak gila, ya? Kamu kali yang buta!”

“AKU JUGA ENGGAK BUTA, ZENNA KENZURA VARELLY!” katanya marah-marah.

“Ya elah, dikit-dikit marah. Kayak anak kecil saja.”

“Heh, kamu emang umur berapa, hah?! Delapan belas, kan?!”

“Tapi kamu 14?”

“Eh, eh, iya … sudah, ini bukan topiknya!”

“Lah kamu duluan?”

“Ck! Sudah, Ayah di mana, hah!”

“Di gudang. Dibilangin susah amat, ah.”

“Enggak ada gudang di sini!”

“Ada, Leon Kenzura Arkatama.”

“Kamu jalan ke situ saja, kasih tau aku kalau begitu.”

“Hayuk, atuh.”

Kami berdua pun jalan dan benar kata Leon kalau tidak ada pintu.

“Ayo masuk!”

“Hah? Enggak ada pintu, Zenna!”

Leon terbangun, itu semua mimpi.

“Oh, cuma mimpi …. Tapi Ayah seharusnya bangunkan aku kalau lama aku tidur …. Ya sudah, jam berapa, ya, sekar—12 MALAM?!”

“Hufff, laper juga. Makan, deh, mumpung ada makanan di kamar.”

Setelah beberapa menit mencari …, “Ih, abis! Tahu, ah! Tidur lagi saja, ngantuk. Besok bisa makan, kok.”

Aku sekarang tertidur sampai mendengar suara yang sangat berisik di luar. Anehnya, Langit dan ibu ayahnya tidak terbangun. Setelah beberapa menit, aku tidak bisa tidur karena suaranya itu. Suara itu sudah berakhir dan aku kembali tidur.

Pagi hari, ada suara teriakan ibu langit. Aku bergegas ke tempat yang ada teriakannya itu. Saat aku lihat, ada bangkai tikus di sana. Bangkai tikus memang menyeramkan, tetapi kenapa ada di rumah?

Aku akhirnya berbicara, “Mau aku panggilkan Om Marven enggak? Buat ngebuang bangkai tikusnya.”

“Boleh. Jangan lama-lama, ya. Aku jijik melihatnya”

Aku berlari ke kamar mereka. Saat aku mengetuk, tidak ada suaranya. Beberapa menit pun masih sama, akhirnya aku masuk.

“Permi—kenapa di lemari ada bacaan?”

Aku pun mengambil kertas itu dan tulisannya, “Ke Hutan Amgrelio, SEKARANG”. Akhirnya, aku berlari ke situ. Bodohnya, aku malah tersesat. Aku mencari jalan keluar, tetapi malah tersasar lebih dalam. Saat berlari dengan panik, aku melihat mahkota yang familier, tetapi aku tidak bisa melihat sepenuhnya karena berlumut dan sudah berkarat. Aku harusnya tahu jalan keluar Hutan Amgrelio, tetapi aku lupa total.

Berjam-jam lewat sampai aku tertemu jalan keluar. Saat aku di depan rumah, aku melihat orang dengan hoodie hitam dan celana hitam, mukanya masih bisa terlihat. Aku menyipitkan mata. Saat aku liat jelas mukanya, mukanya familier, tetapi aku tidak tahu siapa. Cowok itu mendobrak pintu rumah Langit. Ia masuk dengan kepercayaan diri, tidak ada ragu-ragunya. Jadi, siapa dia?

Tentang Penulis

Aina Vara Azeema dipanggil Eimma, dia dari kelas 4A SD Darul Hikam. Hobinya melukis. Dia membuat cerita Putri Hitam. Putri Hitam itu tentang putri yang dibuang karena kelainannya, tetapi ia tidak terlalu peduli dan bertemu temannya yang membuat ia tinggal di rumahnya itu. Namun, ayahnya itu selalu kesal jika putri ini tidak pulang ke istana.

Ruri Sundari, M.Pd.

Kepala SD Darul Hikam