Siola adalah anak panti asuhan. Dia dititip oleh sang ibu karena sang ibu tidak bisa memberi kebutuhan Siola. Mereka keluarga miskin. Akhirnya, ibu Siola menitipkan Siola ke panti asuhan. Teman teman Siola yang bernama Jeff dan Waii, mereka adalah sahabat yang tidak pernah bertengkar. Tiba-tiba ada telepon yang ternyata itu adalah ibunya Siola. Siola sangat senang karena bisa bertemu dengan ibu yang dia sayang. Siola sedang berkemas kemas untuk bertemu ibunya. Namun, Jeff dan Waii sangat sedih karena tidak bisa bermain bersama Siola.
Akhirnya, Waii punya rencana untuk membakar panti asuhan dan Jeff pun setuju dengan rencananya. Ibunya Siola sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Siola. Saking senangnya, Siola sampai lompat lompat dan … bruk, Siola terjatuh. Teman sekamarnya Violet kaget karena suara yang keras tersebut.

Keesokan harinya, seperti biasa anak-anak belajar dan istirahat. Lalu, ada suara telepon, ibu Siola menanyakan keadaan Siola karena khawatir, takut Siola di-bully oleh temannya. Waii dan Jeff sedang bersiap-siap untuk mencari korek api. Mereka tertawa bahagia karena misinya pasti berhasil. Violet sedang bercerita tentang kehidupannya yang sangat menyedihkan. Siola pun memeluk Violet karena ceritanya yang sedih. Waktu masuk kelas ternyata ada murid baru yang rambutnya berwarna merah dan dia sangat cantik, tapi Violet kurang suka.
Violet menjadi kasar kepada murid baru itu. Ketika Siola sedang duduk di halaman, sedang membaca buku pelajaran, tiba-tiba rambut berwarna merah datang. “Halo, Siola, apa kabar? Apakah kamu baik?” tanya rambut merah. “I … iya tentu saja,” jawab Siola. “Kok, jawabnya ragu?” tanya rambut merah lagi.
Siola meninggalkan rambut merah karena sahabatnya memanggil untuk makan bersama. Violet mengikuti Siola. Tiba-tiba Violet tersandung. Rambut merah bukan membantu, tetapi menertawakan Violet yang terjatuh. Tak lama kemudian, Waii melihat kejadian itu dan Waii segera membantu Violet. Waii kesal kepada rambut merah karena sudah mengetahui perbuatannya. Jeff dan Siola sudah lama menunggu mereka, lalu Waii menjelaskan rambut merah itu benar-benar kasar, tetapi Jeff dan Siola tidak memercayai apa yang
Waii katakan. “Itu benar, dia jahat. Benar, kan, Violet?” ucap Waii yakin kalau rambut merah itu jahat. Namun, Violet tidak menjawab. Waii disalahkan oleh sahabatnya, jadi Waii sudah tidak percaya lagi. Sebab Violet tidak menjawab, Waii pergi dengan kecewa. Hari Jumat pun datang, sudah tidak ada Waii, jadiJeff memasang bom sendirian. Bom dinyalakan pada malam hari. Setelah Jeff menyalakan bomnya, baru
saja Siola memeluk ibunya, tiba-tiba … duaaarrrr, panti asuhan pun hancur.

 

Tentang Penulis
Allena Brilyantono, biasa dipanggil Allena/Alen. Oh iya, jangan salah menulis namanya, ya. Dia sekolah di Bandung, nama sekolahnya itu SD 1 Darul Hikam. Dia kelas 5 dan sebentar lagi mau kenaikan kelas. Cita-citanya banyak: penulis, pelukis, dan fotografer. Dia lahir di Bandung tanggal 27 Agustus 2014. Dia hobinya melukis, halu, terus suka baca buku, bikin cerita dan komik. Sekarang, dia juga sedang membuat cerita Hari yang Ditunggu, semoga kalian semua suka.

Ruri Sundari, M.Pd.

Kepala SD Darul Hikam