Hai, namaku Bela. Aku akan menceritakan kisahku yang hilang. Aku berasal dari keluarga yang kurang mampu dan saat itu aku masih SMP. Karena keadaan ekonomi keluarga, aku disuruh bekerja.

Suatu hari saat bekerja, aku sangat lapar karena belum makan sejak pagi. Menjelang sore, aku bertemu dengan seorang kakek tua. Kakek itu mengeluarkan makanan lalu bertanya, “Apakah kamu lapar?”

Aku menjawab, “Iya.”

Kakek itu memberiku makanan. Awalnya aku ragu untuk mengambilnya, tetapi karena sangat lapar, akhirnya aku menerimanya dan berkata, “Terima kasih, Kek.”

Lalu kakek itu menjawab, “Iya, sama-sama.”

Aku mulai memakannya. Tiba-tiba pandanganku menjadi hitam.

Ketika terbangun, aku sangat bingung karena berada di sebuah kastel. Aku melihat ke sana kemari, tetapi tidak ada satu orang pun di sana. Aku mencoba berjalan, walaupun kakiku terasa sangat lemah.

Saat berjalan perlahan, aku menemukan sesosok mayat yang tergeletak. Aku sangat terkejut dan berteriak, “AAA!!” Wajah mayat itu terlihat mirip dengan kakek tua tadi. Aku langsung berlari sekencang mungkin walaupun kakiku sakit.

Tiba-tiba aku terjatuh di tangga dan HP-ku terlempar. Aku segera mengambilnya lalu membuka Friendster. Di sana aku menemukan sebuah fotoku dengan tulisan “Anak Hilang”. Ketika melihat tahunnya, ternyata tertulis tahun 2016. Aku sangat terkejut. Tiba-tiba pandanganku kembali buram lalu gelap.

Saat sadar, aku kembali ke tempat pertama tadi. Aku mencoba turun dan menemukan pintu keluar. Di sekeliling tempat itu terdapat air berwarna gelap. Aku berusaha membuat perahu agar bisa keluar dari pulau tersebut.

Setelah perahunya jadi, aku segera menaikinya. Aku hampir sampai ke pulau tempat rumahku berada, tetapi pandanganku kembali buram.

Aku terbangun lagi di kastel yang sama. Aku keluar dari tempat itu dan menemukan perahu yang terdampar di ujung pulau. Aku menaikinya dan akhirnya berhasil menjauh dari pulau tersebut.

Di tengah perjalanan, aku menemukan sebuah pulau misterius. Karena lelah, aku berhenti di sana. Di ujung pulau itu terdapat sebuah rumah kecil.

Aku mendekati rumah tersebut. Sesampainya di sana, aku menemukan secarik kertas bertuliskan, “Kamu tidak bisa kembali.”

Aku mulai ketakutan. Tiba-tiba muncul seorang anak kecil yang mendatangiku, tetapi dia bisu. Anak itu berbicara menggunakan bahasa isyarat, namun aku tidak mengerti. Aku mencoba mencari artinya di Google dan ternyata maksudnya adalah, “Kamu kenapa?”

Aku berusaha menggunakan bahasa isyarat sederhana dan bertanya, “Ini tempat apa?”

Anak kecil itu kembali memberi isyarat yang artinya, “Kamu dari mana? Kenapa kamu ada di sini?”

Aku menjawab, “Aku dari Bandung.”

Anak kecil itu lalu menuliskan sesuatu di kertas, “Apakah kamu mau berteman denganku?”

Aku membalas tulisan itu dengan jawaban, “Ya.”

Tiba-tiba tanganku diseret menuju tepi pulau untuk menaiki perahu. Aku dan anak kecil itu menaiki perahu, tetapi hanya dia yang mendayung. Dalam hati aku bertanya, Mengapa dia mendayung perahu ini menuju kastel lagi?

Sesampainya di sana, anak kecil itu tiba-tiba menghilang. Namun, dia meninggalkan secarik kertas bertuliskan, “Cari aku dan jangan takut.”

Aku mencoba mencarinya. Tiba-tiba aku menemukan baju putih milik anak kecil itu yang penuh lumuran darah. Aku sangat takut, tetapi aku mengingat pesan di kertas tadi. Aku tetap memberanikan diri untuk mencarinya.

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng, “Tringgg!”

Aku menoleh ke belakang dan melihat anak kecil itu. Kali ini dia bisa berbicara.

Dia bertanya, “Apakah kamu takut melihatku yang berlumuran darah?”

Aku menjawab, “Tidak,” walaupun sebenarnya aku sangat takut.

Lalu anak kecil itu berkata, “Ikuti aku!”

Aku pun mengikutinya. Dia berjalan menuju hutan, lalu tiba-tiba menghilang lagi.

Aku tidak tahu ke mana dia pergi. Namun, aku melihat mayat yang bergelantungan di atas pohon. Aku mencoba keluar dari hutan itu, tetapi selalu gagal. Karena sudah berkali-kali mencoba dan waktu menunjukkan pukul 00.00, akhirnya aku tertidur di hutan tersebut.

Saat tertidur, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiriku.

Ketika aku terbangun, ternyata aku sudah berada di tengah kota. Aku sangat bingung.

Laki-laki itu berkata, “Kok wajahmu mirip dengan anak hilang di Friendster yang sudah hilang selama 12 tahun?”

Aku terkejut dan menjawab, “Tapi saya merasa baru hilang satu hari satu malam.”

Laki-laki itu berkata, “Tidak mungkin.”

Tiba-tiba laki-laki itu menghilang. Aku segera berlari. Saat berlari, aku melihat sebuah pintu dengan tulisan “Pintu Keluar”.

Aku melihat seseorang menjatuhkan secarik kertas bertuliskan, “Desa Aneh”.

Aku sangat bingung. Aku harus pergi ke mana? Aku menemukan sebuah kertas lagi yang berisi. “Tuliskan kode”. Aku makin bingung.

Aku mencoba untuk berjalan dan aku menemukan sebuah ladang yang ada sapi berkaki satu. Aku mencoba menulis angka satu di kertas itu. Kemudian, aku menemukan kucing berkaki 9 dan aku menulis angka 9 di kertas itu lagi. Aku juga menemukan manusia berkaki 4 dan aku menulis angka 4. Terakhir aku menemukan tikus berkaki 10 dan aku menulis angka 10. Ternyata kertas itu sudah penuh.

Tiba-tiba penglihatanku menghitam. Aku kembali ke tengah kota itu lagi dan aku melihat ada kakek tua berkaki lima. Aku sangat takut dan aku berlari. Ketika aku berlari, kakek itu mengejarku. Aku mencoba berlari sekeras mungkin, tetapi kakek itu larinya cepat sekali. Aku tersandung batu, aku terjatuh, tetapi saat aku melihat ke belakang, kakek itu tidak ada. Aku berdiri, tetapi saat aku berdiri kakek itu berkata, “Cu….”

Aku sangat bingung dan aku bertanya, “Kamu siapa?”

Kakek itu menjawab, “Kamu tidak kenal saya.”

Aku mencoba mengingat-ingat kembali. Ternyata dia adalah kakekku yang hilang 13 tahun lalu. Sontak aku memeluknya. Aku sangat rindu sekali dengan kakek dan aku diajak ke rumahnya.

Aku ke rumah Kakek dan melihat Kakek memasak cacing kecap. Kakek memakan itu, aku sangat heran sekali. Dia juga memakan darah kucing. Aku melihat ke halaman rumah Kakek, dia memelihara tikus. Aku sangat jijik sekali. Aku langsung berlari masuk rumah. Aku berteriak keras sekali karena Kakek tidak bernapas lagi dan dia meninggalkan surat yang berisi, “Hati-hati”.

Aku merobek kertas itu dan mencari rumah sakit di desa itu untuk membawa kakekku. Aku menanyakan ke semua warga di mana rumah sakit terdekat dan mereka semua berkata, “Tidak ada,” kecuali satu warga yang berkata, “Mengapa kamu menanyakan hal ini?” Aku terkejut dan tiba-tiba aku tertidur.

Aku terbangun di kota asliku. Semua keluargaku bertanya, “Kamu dari mana saja?”

Aku menjawab, “Aku tidak tahu.”

Aku bercerita pada semua keluargaku kalau aku bertemu dengan kakekku yang sudah meninggal.

 

Tentang Penulis

Almaas, dia lahir di Bandung tanggal 15 Januari 2015. Dia sekolah di DH, kelas 4. Dia sering dipanggil Maas. Hobinya menulis, cita-citanya menjadi dokter. Sekarang, dia sedang menulis cerita *Misteri Anak Hilang*. Cerita ini menceritakan tentang anak yang hilang bertahun-tahun. Supaya kalian tidak penasaran, silakan membacanya.

Ruri Sundari, M.Pd.

Kepala SD Darul Hikam